10 Warga Dipukul Polisi di Pasaman Barat

Padang Ekspres • Selasa, 05/03/2013 11:49 WIB

Pasbar, Padek—Keke­rasan oknum aparat ter­hadap rakyat sipil di Sum­bar kembali terjadi. Dua hari terakhir saja, terjadi dua kasus pemukulan ok­num aparat di dua lokasi. Minggu (3/3), 10 orang warga Jorong Tongar, Kenagarian Aiagadang, Keca­matan Pasaman, Pasaman Barat (Pas­bar), dipukul oknum polisi. Sedangkan kemarin (4/3), seorang pemuda dihajar oknum TNI Angkatan Laut dari Satuan Keamanan Laut (Satkamla), di Bypass KM 17, Padang.

Aksi main pukul oknum polisi terjadi di dekat kantor PNPM Jorong setempat, Minggu (3/3), sekitar pukul 18.00. Pemukulan diduga akibat pemasangan portal di lahan sengketa tanah oleh warga Jorong Tongar, Kenagarian Aiagadang. Lahan trans itu kini masih dimediasi pemerintah daerah setempat.

Kesepuluh orang warga mengaku dipukuli oknum polisi itu, yakni M Saleh, 52, dipukul wajahnya, bahu, perut dan kuduk. Dumi, 43, dipukul leher belakang, Wardono, 48, dan Riyan, 22,  ditendang,

Selamat, 38, ditarik dari sepeda hingga terjatuh. Lalu, Nono, 35, Soleh, 45, Hamdani, 45, Hengki, 22, dan Mustopa, 30.

“Kami terkejut atas perla­kuan oknum polisi itu. Waktu itu mereka mendadak datang ke posko kami ini,” kata M Saleh, diamini warga lainnya, di Kampung Tongar, Senin (4/3)

Para korban pemukulan tidak melakukan visum karena dianggap tidak ada gunanya karena pelakunya oknum apa­rat.Namun, bebe­rapa warga ada yang meminta tanda berobat dari tim medis di RS Ibnu Sina Simpangampek sebagai bukti.

Kasubag Humas Polres Pas­bar AKP Mudassir ketika di­konfirmasi Padang Ekspres di ruang kerjanya Simpangampek, membantah keras pemukulan yang dilakukan oknum polisi terhadap masyarakat Tongar ini. Dia berkilah jajarannya hanya mengumpulkan warga terkait penggalian jalan di Tongar.

“Tidak ada pemukulan. Pe­tu­gas hanya memberikan penga­ra­han terkait sengketa tanah trans saat ini masih dimediasi pe­mda dan pihak terkait lainnya. Dan kalau ada warga dipukul, silakan laporkan ke Polres pasti kita tindak lanjuti,” janji Mudassir.

Di sisi lain, Pemkab Pasbar meminta pihak bersengketa di lahan transmigrasi Suriname di Tongar, agar melengkapi berkas lahan yang dituntut. “Kita sudah melakulan rapat, hasil kese­pa­katan sudah dituangkan dalam notulen rapat antara instansi terkait untuk mencari upaya penyelesaiannya,” kata ketua rapat tuntutan warga Tongar, Sukarni yang juga Asisten I  Setkab Pasbar dalam rapat yang dihadiri warga transmigrasi Tongar difasilitasi LSM Gema dan Badan Pertanahan Nasional Pasaman Barat.

Seperti diketahui, masyara­kat Tongar dimotori LSM Gema Pasbar menuntut pengembalian lahan warga transmigrasi ber­dasarkan surat penyerahan ninik mamak Aiagadang tahun 1953. Saat ini dikuasi CV Tunas Rimba seluas 280 hektare lebih.

Adik Marinir Dihajar

Di Padang, aksi kekerasan dialami Ade Putra, 21, warga Siteba, Kecamatan Nanggalo, Padang. Akibat kejadian itu, dia harus mendapatkan perawatan serius Rumah Sakit Islam Siti Rahmah akibat luka serius di bagian kepala, dada dan luka lebam di wajah.

Oknum TNI AL diduga “main tangan” itu berinisial R. Informasi yang dihimpun Padang Ekspres, aksi main pukul itu bermula ketika Ade mengendarai Daihat­su Fe­roza BA 1987 RE melaju dari arah Aiapacah menuju warung nasinya di kawasan Bypass KM 17. Saat itu korban melaju dengan ke­cepatan rendah, karena berbe­lok ke kanan, di depan warungnya.

Namun tanpa diduga, mela­ju oknum TNI AL dengan Suzuki APV warna silver dari arah sama dengan kecepatan tinggi. Diduga karena terkejut, sontak oknum ter­sebut berhenti di depan mobil Ade dan menghajar Ade.

Ade yang juga adik salah seorang anggota Marinir di Lantamal II Teluk Bayur ketika ditemui Padang Ekspres di Rumah Sakit Siti Rahmah me­nga­takan, dia langsung keluar dari mobil begitu pula R. Tanpa ba bi bu, R langsung menyerang dan menghajar korban. “Saya langsung diserang sebelum sempat bertanya dan menje­laskan persoalan,” ujar Ade.

Tanpa ampun oknum TNI AL terus memukulinya hingga terjatuh. Beruntung keluarga Ade yang berada di warung, melihat kejadian tersebut dan meneriaki oknum tersebut. Beberapa orang pemuda di wa­rung mengejar oknum terse­but, tapi R berhasil mela­rikan diri.

Asril Chan, orangtua Ade me­ngatakan, oknum TNI AL pemukul anaknya bukanlah Ma­rinir. Itu diketahui dari anak­nya yang Marinir bertugas di Lan­tamal II Teluk Bayur. “Anak saya Marinir, namun TNI yang me­mukul itu tidak sama kesa­tu­an­nya dengan anak saya,” ujarnya.

Beberapa jam usai kejadian, tambah Asril, oknum tersebut kembali mendatangi rumah makan miliknya bersama te­man­nya berpakaian dinas. ”Me­reka datang ingin ber­da­mai. Kami tidak terima, main pukul seenaknya,” ujar Asril.

Sekitar pukul 19.00, Ade bersama ayahnya Asril Chan me­laporkan penganiayaan diala­minya ke Polisi Militer Angkatan Laut (Pomal). Kadispen Lan­tamal II Mayor Laut (KH) Nel­son Sagala saat dihubungi Pa­dang Ekspres mengatakan, sampai sore kemarin dia belum menerima laporan bahwa ada anggotanya melakukan penga­niayaan.

Sumber:Padang Ekspres

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s